Pola Makan
Tapi dua cerita ini mungkin jadi referensi buat menentukan sudah benarkah pola makan kita.
Dua minggu lalu Bapakku kena stroke, sesuatu yang mengagetkan mengingat beliau tidak pernah mengeluhkan darah tinggi. Kecemasan menggayuti aku dan adik-adikku, selain sedikit trauma karena Mama kami meninggal karena stroke. Kita penasaran, apa penyebabnya stroke Bapak. Rupanya pola makan beliau, sepeninggal Mama, Bapak memang tinggal seorang diri, untuk makan beliau makan di warung. Pernah kami tawarkan katering, tapi Bapak menolak dengan alasan nanti nggak cocok antara yang diinginkan untuk dimakan beliau dengan kiriman katering. Tapi dengan makan di warung jadi kurang terkontrol pilihan makanannya. Seringnya pilihan makanan yang enak tapi bahaya, seperti makanan berlemak tinggi.
Cerita kedua, aku alami ketika mengantar teman konsultasi ke dokter karena dia sering pusing, diagnosa dokter mengagetkan. Kurang gizi ! Bayangkan betapa memalukan menurut temanku, tapi dokter menyakinkan, meski kita tidak kekurangan makan, bukan berarti asupan gizi dari makanan yang kita makan sudah cukup.
Jadi, kupikir benar juga kata banyak informasi kesehatan, kita perlu mengatur pola makan dengan baik.
Menurutku, pola makan juga berkorelasi dengan kondisi kantong. Bila kantong tebel, kita bisa memilih apa yang mau kita makan, tapi bila mulai menipis agak susah kali ya....:-) Tapi kita harus banyak bersyukur karena banyak orang yang justru sama sekali tak bisa mengatur makanan yang akan dimakan karena jangankan memilih makanan, membelipun mereka tak mampu.

